Selasa, 03 Oktober 2017

JENIS _ JENIS BENCANA ( Teks 1 )

JENIS – JENIS BENCANA


A. Gempa Bumi
Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energy di dalam bumi secara tiba – tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energy penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng – lempeng tektonik. Energy yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

Penyebab terjadinya gempa bumi : 
1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit / lempeng bumi.
2. Aktivitas sesar di permukaan bumi
3. Pergerakan geomorfologi secara lokal
4. Aktivitas gunung api
5. Ledakan nuklir

Mekanisme perusakan terjadi karena energy getaran gempa merambat ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan sehingga dapat menimbaulkan korban jiwa. Getan gempa juga dapat memicu tejadinya tanah longsor, reruntuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang akan merusan pemukiman penduduk. Gempa bumi juga menyebabkan bencana ikutan berupa kebakaran, kecelakaan industry dan transportasi, serta banjir akibat runtuhnya bangunan maupun tanggul penahan lainnya. 

Hal – hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gempa bumi :
1. Memastikan bahwa struktur rumah dapat tehindar dari bahaya yang disebabkan oleh gempa   bumi ( longsor, rekahan tanah).
2. Mengevaluasi dan merenovasi ulang struktur bangunan agar terhindar dari bahaya.
3. Perhatiakn letak pintu, lift, serta tangga darurat, apabila terjadi gempa bumi, sudah mengetahui tempat paling aman untuk berlindung.
4. Belajar melekukan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan menggunakan alat pemadam kebakaran.
5. Mencatat nomor telepon penting yang dapat dihubungi pada saat terjadi gempa bumi.
6. Perabotan ( lemari, cabinet ) diatur menempel pada dinding (dipaku , diikat ) untuk menghindari jatuh, roboh, bergeser pada saat terjadi gempa bumi.
7. Menyimpan bahan yang mudah terbakar pada tempat yang tidak mudah pecah agar terhindar dari kebakaran.
8. Selalu mematikan air, gas dan listrik apabila sedang tidak digunakan.
9. Atur benda berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah.
10. Cek kestabialan benda yang tergantung yang dapat jatuh pada saat gemap bumi terjadi.
Hal – hal yang dilakukan pada saat terjadi gempa bumi :
Jika berada didalam bangunan 
Lindungi kepala dan badan daru reruntuhan bangunan
Mencari tempat yang aman dari reruntuhan akibat goncangan gempa ( seperti di bawah meja, disudut ruangan yang kuat, dibawah kusen ).
Jika berada diluar bangunan
Menghindari bangunan yang ada di sekitar (gedung, tiang listrik, pohon, dll).
Perhatikan tempat berpijak apabila terjadi rekahan tanah
Jika sedang mengendarai mobil
Berhenti, keluar, dan menjauh dari mobil.
Hindari lokasi yang berbahaya seperti rekahan tanah atau kebakaran dan berlindung di samping mobil.
Jika tinggal atau berada di pantai
Jauhi pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi untuk menghindari terjadinya tsunami.
Jika tinggal di daerah pegunungan
Hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.

Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Resiko Bencana :
Bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran atau gempa khususnya didaerah rawan gempa.
Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan.
Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.
Perkuatan bangunan – bangunan vital yang telah ada.

Skala MMI ( Modified Mercally Intensity ) :

I. MMI
Getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan yang luarbiasa oleh beberapa orang.

II. MMI
Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda – benda ringan yang digantung bergoyang.

III. MMI
Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran, seakan – akan ada truk berlalu.

IV. MMI
Pada siang hari dirasakan oleh banyak orang dalam rumah, diluar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela / pintu berderik dan dinding berbunyi.

V. MMI
Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang – barang terpelanting, tiang – tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

VI. MMI
Getaran dirasakan oleh semua penduduk, terkejut dan lari keluar. Kebanyakan plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.

VII. MMI
Tiap – tiap orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah – rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya terjadi retak – retak bahkan hancur, cerobong asap pecah, terasa oleh orang naik kendaraan.

VIII. MMI
Kerusakan ringan pada bangunan denga konstruksi yang kuat. Retak – retak pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dengan rangka rumah,cerobong asap pabrik dan monument roboh, air mrnjadi keruh.

IX. MMI

Kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka – rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak. Rumah tampak berpindah dari pondamennya. Pipa – pipa dalam rumah putus.

X. MMI

Bangunan dari kayu yang kuat  rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah, rel melengkung, tanah longsor di tiap- tiap sungai dan ditanah – tanah yang curam.

XI. MMI
Bangunan – bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.

XII. MMI
Hancur sama sekali, gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap. Benda – benda tampak terlempar ke udara.


sumber : buku Atlas Bencana Indonesia 2012 ( BNPB )

B. Tsunami
Tsunami berasal dari Bahasa Jepang. “Tsu” berarti Pelabuhan, “nami” berarti gelombang, sehingga secara umum diartikan sebagai gelombang pasang laut yang menerjang Pelabuhan. Tsunami sering terjadi di Jepang, sejarah mencatat setidaknya 197 stunami telah terjadi. Tsunami secara luas dapat diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut.
Gangguan impulsive tersebut bisa berupa gempabumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran. Kecepatan tsunami yang naik ke daratan  ( run – up ) berkurang menjadi sekitar 25 – 100 km/jam dan ketinggian air tsunami yang pernah tercatat terjadi di Indonesia adalah 36 meter yang terjadi pada saat letusan Gunung Krakatau tahun 1883.


Penyebab Terjadinya Tsunami 
1. Gempabumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah / batuan yang sangat besar di bawah air ( laut / danau ). Berikut adalah gempa yang berpotensi menyebabkan tsunami :

  • Gempabumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal ( 0 – 30 ) km.
  • Gempabumi dengan kekuatan lebih dari 6,5 SR
  • Gempabumi dengan pola sesar naik atau turun

2. Tanah longsor di dalam laut.
3. Letusan gunungapi di bawah laut atau gunungapi pulau.
4. Meteor jatuh di laut.

Gejala dan Peringatan Dini


Kejadian tsunami terjadi secara mendadak, dan di Indonesia pada umumnya didahului dengan gempabumi besar dan surutnya air laut.  Gelombang air laut datang secara mendadak dan berulang., dengan energi yang sangat kuat. Terdapat selang waktu antara terjadinya gempabumi sebagai sumber tsunami dan waktu tiba tsunami di pantai mengingat kecepatan gelombang gempa jauh lebih besar dibandingkan kecepatan tsunami. Di Indonesia pada umumnya tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit setelah terjadi gempa bumi besar di bawah laut. Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya, akan tetapi kita bisa menerima peringatan akan terjadinya tsunami, sehingga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan diri.

Penyelamatan Diri saat Terjadi Tsunami
Jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempabumi , air laut dekat pantai surut secara tiba – tiba, segeralah lari menuju tempat yang tinggi  ( perbukitan atau bangunan tinggi ) sambal menginformasikan kepada yang lain.
Jika sedang berada didalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut. Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang. Jika gelombang telah benar – benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban.

Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Risiko Bencana
  • Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami.
  • Pendidikan kepada masyarakat terutama yang tinggal di daerah pantai tentang bahaya tsunami.
  • Pembangunan Tsunami  Early Warning System ( Sistem Peringatan Dini Tsunami ).
  • Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang beresiko.
  • Penanaman bakau serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai untuk meredan gaya air tsunami.
  • Pembangunan tempat – tempat evakuasi sementara ( evacuation shelter ) yang aman di sekitar daerah pemukiman yang cukup tinggi dan mudah dilalui untuk menghindari ketinggian tsunami.
  • Peningkatan pengetahuan masyarakat local khususnya yang tinggal di pinggir pantai tentang pengenalan tanda – tanda tsunami serta cara – cara penyelamatan diri terhadap bahaya tsunami.
  • Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami.
  • Mengenali karakteristik dan tanda – tanda bahaya tsunami.
  • Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda – tanda akan terjadi tsunami.
  • Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami.
  • Melaporkan secepatkan jika mengetahui tanda – tanda akan terjadinya tsunami kepada petugas yang berwenang, seperti Kepala Desa, Polisi, Stasiun Radio, BPBD, maupun institusi terkait.

sumber : buku Atlas Bencana Indonesia 2012 ( BNPB )







introduction

setiap orang menginginkan sesuatu hal yang baru, seperti aku yang ingin mencoba hal - hal baru yang belum pernah kucoba sebelumnya. tidak mudah untuk melakukan hal - hal baru, tetapi kerja keras dan tekat kuat pasti akan memudahkan segalanya. percaya dan yakin dengan kemampuan yang kita miliki agar hasil yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita harapkan.